DAFTAR MENU

Selasa, 09 November 2010

AKTIVITAS MERAPI

LETAK & KETINGGIAN GUNUNG MERAPI
Gunung Merapi (2914 meter) hingga saat ini masih dianggap sebagai gunung berapi aktif dan paling berbahaya di Indonesia, namun menawarkan panorama dan atraksi alam yang indah dan menakjubkan. Secara geografis terletak di perbatasan Kabupaten Sleman (DIY), Kabupaten Magelang (Jateng), Kabupaten Boyolali (Jateng) dan Kabupaten Klaten (Jateng). Berjarak 30 Km ke arah utara Kota Yogyakarta, 27 Km ke arah Timur dari Kota Magelang, 20 Km ke arah barat dari Kota Boyolali dan 25 Km ke arah utara dari Kota Klaten.
Menurut Atlas Tropische Van Nederland lembar 21 (1938) terletak pada posisi geografi 7 derajad 32.5' Lintang Selatan dan 110 derajad 26.5' Bujur Timur. Dengan ketinggian 2914 m diatas permukaan air laut. Berada pada titik persilangan sesar Transversal perbatasan DIY dan Jawa Tengah serta sesar Longitudinal lintas Jawa (lihat Triyoga Lucas Sasongko 1990, Manusia Jawa & Gunung Merapi Persepsi dan Sistem Kepercayaanya, Gadjahmada Univ. Press). Meletus lebih dari 37 kali, terbesar pada tahun 1972 yang menewaskan 3000 jiwa. Terakhir meletus pada Selasa Kliwon tanggal 22 November 1994, dengan korban tewas lebih dari 50 orang










JURU KUNCI GUNUNG MERAPI
Semua orang lagi ramai membicarakan bahkan mengidolakan Mbah Maridjan yang notabene merupakan juru kunci gunung Merapi yang baru meletus pada tanggal 26 Oktober 2010. Tak lama kemudian ada lagi pemberitaan mengenai penggantian posisi Mbah Maridjan. Yang ada di benak aku adalah perlukah seorang juru kunci sebuah gunung berapi yang masih berstatus aktif? Tidak bisa dipungkiri jika warga Jawa atau bahkan sebagian besar orang Indonesia tidak bisa dilepaskan dari yang namanya mistis. Kalau baca-baca maupun dengar dari media sebenarnya tugas seorang juru kunci adalah sebagai pengamat gunung tersebut dikarenakan jaman dahulu belum ada seismograf atau detector lainnya. Namun, sekarang kita sudah tidak tinggal di era itu lagi, kita sudah berada di era yang lebih canggih.
PIHAK-PIHAK YANG BERWENANG
-Agus Wiyarto.
-BPPTK Yogyakarta, Subandrio
-Triyono,
-Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi di Kaliurang









AKTIVITAS GUNUNG MERAPI & URUTAN GUNUNG MELETUS
Berikut kronologi letusan Merapi versi pemantau langsung sebagaimana siaran pers Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) , Rabu (27/10/2010):
Ada 4 seismograf untuk mengamati akvitas vulkanik Merapi, yang diletakkan di Klatakan/Babadan/Magelang (sisi barat); Pusunglondon/Selo/Boyolali (utara); Deles/Klaten (timur/tenggara); dan Plawangan/Turgo/Kaliurang (selatan).
*Menjelang Pukul 16.00 WIB*
Aktivitas vulkanik masih cenderung naik, pasca naiknya status menjadi "Awas" sejak sehari sebelumnya. Secara visual melalui kamera yang diletakkan di pos pengamatan lereng Merapi tidak bisa diamati langsung karena tertutup kabut tebal sejak beberapa jam sebelumnya (foto gunung merapi meletus ). Bahkan pos-pos yang berada di lereng Merapi pun melaporkan bahwa mereka tidak bisa memantau secara visual. Komunikasi melalui jaringan radio HT.
*Pukul 16.00 - 17.00 WIB*
Ada peningkatan aktivitas cukup signifikan meliputi gempa vulkanik, multiphase (MP), guguran, dsb. Tapi masih dianggap belum 'cukup' berbahaya. Tak ada gambaran visual sama sekali. Semua hanya tergantung pada alat-alat. Sempat ada wawancara oleh sejumlah media nasional pada petugas terkait kemungkinan/skenario letusan yang akan terjadi.
*Pukul 17.00 - 17.30 WIB*
Terjadi lonjakan aktivitas vulkanik yang sangat tajam, terutama mulai pukul 17.02 WIB, yang ternyata adalah luncuran awan panas. Empat seismograf tadi semuanya mencatat amplitudo getaran yang sangat lebar (besar), bahkan jarumnya pun terlepas berulang kali. Petugas monitoring mulai sibuk dan panik luar biasa, apalagi karena besarnya amplitudo dan lamanya kejadian. Pos-pos pengamatan di lereng pun juga melaporkan demikian, hanya saja sama sekali tidak diketahui, apa itu awan panas / yg lain. Semua tertutup kabut tebal. Tak ada yang bisa menduga ada apa di balik kabut tebal itu.
*17.30 WIB - 18.30 WIB*
Kabut masih sangat tebal dan mulai gelap. Semakin sulit untuk mengetahui apa yang terjadi di Merapi. Empat seismograf masih saja mencatat getaran yang sangat besar (dan lagi-lagi beberapa kali jarumnya sampai lepas, dan gulungan2 kertasnya diganti cepat sekali - padahal normalnya 12 jam sekali). Petugas menyatakan ada 3 kali letusan & luncuran awan panas dan kemungkinan eksplosif menyebar ke segala arah. Petugas pusat memperintahkan pada semua petugas pos di lereng merapi untuk langsung meninggalkan pos, turun untuk evakuasi. Petugas juga menghubungi aparat-aparat di beberapa tempat, agar dilakukan evakuasi paksa untuk warga. Sirene di berbagai tempat dibunyikan. Jaringan radio HT mulai sangat crowded, begitu pula jaringan telepon di pos. Beberapa petugas terlihat sangat panik (menangis?), sembari terus berdoa dan bertakbir.
*Pukul 18.30 - 19.00 WIB*
Petugas pusat mengeluarkan pernyataan/informasi resmi pada media, tentang terjadinya letusan ini, serta fokus sekarang adalah pada proses evakuasi. Aktivitas vulkanik yang terdeteksi di seismograf mulai menurun, kecuali 1 seismograf di Plawangan/Turgo/Kalikuning. Petugas mengkhawatirkan daerah sekitar Kinahrejo (tempat mbah Maridjan), Kaliadem, dan sekitar lereng selatan Merapi.
*19.00 WIB - ...
Petugas di pos-pos pengamatan lereng Merapi naik kembali ke pos mereka (tapi beberapa masih dilarang untuk kembali untuk beberapa saat). Hujan kerikil dan abu mulai dilaporkan oleh pos-pos pemantauan, terutama di daerah barat daya Merapi. Bau belerang juga bisa dicium dari sekitar lereng. Aktivitas Merapi dipantau dari seismograf, terus cenderung turun, bahkan stabil normal tenang, walau beberapa kali kadang terjadi guguran material. Secara visual Merapi masih tertutup kabut, sehingga tidak ada bisa yang bisa melihat 'seberapa besar letusan, kemana arah awan panas, dsb'. Kondisi petugas mulai tenang, bahkan beberapa kali terlihat bercanda. Wartawan dan media masih terus standby di pusat pemantauan, dan beberapa menyusul naik ke Kaliurang.
*Aftermath*
Petugas BPPTK menyatakan Merapi sekarang ini sedang dalam kondisi tidur nyenyak setelah aktivitas tadi. Belum diketahui, apakah akan ada aktivitas vulkanik susulan lagi. Mereka sempat khawatir, jika yang terjadi tadi hanyalah/baru awal saja. Sebagaimana pola-pola erupsi Merapi yang sebelumnya, yang biasanya kecil dulu, lalu sedang, besar, berkurang, kembali ke normal lagi, dst. Titik api / aliran lahar juga belum bisa dikonfirmasi. Apa yang terjadi tadi lebih besar daripada yang terjadi tahun 2006.
DAMPAK NEGATIF GUNUNG MELETUS
1. Luka bakar dengan berbagai derajat keparahannya.
2. Cedera dan penyakit langsung akibat batu, kerikil, larva dan lain-lain.
3. Dampak abu gunung berapi (baik berbagai jenis gas seperti S02, H2S,N02 dan lain-lain serta debu dalam bentuk TSP atau PM 10/5/2.5.
4. Perburukan penyakit yang sudah lama diderita oleh pasien/pengungsi.
5. Dampak lain seperti kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena panik, kontaminasi makanan dan lain-lain.

6. Terjadi pencemaran udara.
DAMPAK POSITIF GUNUNG MERAPI
1. Bagi penduduk sekitar gunung hasil muntahan vulkanik bagi lahan pertanian dapat menyuburkan tanah.
2. Bisa jadi objek wisata.
3. Hasil erupsi (pasir) dapat dijadikan mata pencaharian seperti
penambangan pasir dan karya seni dari endapan lava yang telah dingin.
4. Membentuk barang2 tambang
5. Adanya sumber air panas yg sangat bermanfaat bagi manusia terutama bagi kesehatan







Tidak ada komentar:

Posting Komentar